Rabu, 16 Januari 2019

Hanyutan Asa

Tak seberapa,
Helaan napas saat kau tak ada.
Tak mengapa,
Bayangmu semakin jauh tak teraba.
Hari kian dekat.
Kita makin tersekat.
Asa ku yang dulu,
Kini memudar.
Mengulik sejuta untaian rasa berselimut asa mimpi tak terasa,
Sampai kau ada.
Hingga tiada.
Suaramu perlahan mengecil lalu menghilang
Bersama ribuan cerita terangkai makna,
Buatku ini berarti,
Buatmu? Mungkin lirik sudah menjadi lirih.
Luruh lalu merapuh.
Ke mana kau yang dulu?
Kau tak perlu sungkan,
Aku masih tetap sama,
Belajarlah menerima.
Perubahan itu nyata.
Tak disangka-sangka.
Aku, tak perlu mendendam dan menerka-nerka lalu menderma.
Pikirku,
Khayalku,
Kini sudah terparuh.
Menyisakan luka baru.





Luka lama hanya membawa pada luka baru.
Hidup mengajarkan tentang bagaimana menghadapi luka dan tetap santai dibuatnya.
Jadi, buat apa gelisah tak tentu arah?
Yuk, berdiskusi :)

silahkan dicari,
ㅡ Namira Salsha


Sekali posting lima.
Bukan apa-apa,
Sudah lama tak menulis.
Menurutku, menulis adalah salah satu cara menenangkan hati yang kian menggerutu.

Enjoy reading!
Thank you for smiling!

Mati Rasa

Helaan napas terdengar mendesak,
Irama detak jantung tak beraturan,
Rona mentari bersembunyi dibalik awan pagi,
Gemerlap bintang berlomba-lomba memenuhi isi langit,
Mati rasa terlalu lama mendamba,
Hingga tak berujung bersama.
Seluruh isi langit menceritakan kisah kita,
Yang kian kadaluarsa.
Tapi tak apa,
Karena buatku,
Kebahagiaanmu yang paling utama.
Selamat berbahagia. 



Teruntuk kamu yang di sana,
Sedih tak berlangsung lama,
Begitu pula bahagia,
Semuanya sementara.
Jadi, mengapa harus merana dibuatnya?
Biarlah mengalir hingga bertemu muara.

Mari berdiskusi. :)
Meet me on : namirasalsha

Datang dan Pergi

Lalu lalang kendaraan,
Sepasang mata bercengkrama,
Bertukar cerita,
Tak lepas dari pandangan ilusi,
Tentang kepak sayap merpati,
Melayang jauh terbang sesuka hati,
Namun tahu tempat kembali.
Ku perhatikan lekat-lekat,
Bola mataku berhenti pada perempatan jalan,
Ada seseorang yang baru saja pergi melesat dengan motornya,
Ada yang baru pulang melepas penat.
Ini bukan tentang orang yang sama.
Namun orang yang berbeda,
Banyak yang datang dan pergi,
Berlalu lalang tanpa henti,
Ada yang terjebak di ruang nostalgia.
Ada yang cepat bosan tak bertahan pada satu pilihan,
Setiap orang berbeda-beda.
Terlalu banyak yang hanya singgah,
Tidak sungguh.
Memang benar,
Yang menetap hanya sedikit.
Maka, apabila sudah menemuinya,
Jangan disia-siakan.



Yuk berdiskusi,
Temui aku di sini : namirasalsha
Mampir lagi ya!  

Terperangkap

Terjebak,
Terbungkam,
Terpikat,
Melampaui batas,
Melampauinya,
Tenggelam,
Larut dalam kefanaan cinta.
Termakan janji,
Terlanjur percaya,
Di mana ia berlatih Sandiwara?
Sampai aku gagap tak berkutik dibuatnya.

ㅡ Aku Siapa?
Sebut saja, Namira Salsha.

Mendamba

Guncangan,
Membuat goyah,
Lemah terkapar tak berdaya.
Pelupuk mata kian melipir,
Denting suara air mulai terdengar samar-samar,
Langkahan telapak kaki mulai terseok-seok
Terkuasai oleh nafsu akan memiliki.
Hati yang rakus,
Jiwa yang tak pernah puas,
Haus akan rasa kasih-mengasihi;
Mendamba sang pujaan hati
Namun takdir tak merestui.
Alam pun enggan bercampur tangan.
Tiba di persimpangan penuh nyali tersiur,
Timpang sungkur,
Pikiran bercambuk berjuta harapan nestapa.
Hati bergelut nuansa duka.
Lara bercampur aduk bara.
Api mulai menyala.
Memancing gairah untuk bersatu padu dalam senda gurauan.
Memecah belah kegundah gulanaan. 


Awal tahun 2019,
Di bulan Januari. 

ㅡ Ditulis sama Nasha. 
Namira Salsha, gumamnya.