Dilihat dari atas, menghilanglah aku dari peradaban.
Dilihat dari bawah, aku bukanlah siapa-siapa selain insan kecil.
Yang tak memiliki kuasa.
Namun memiliki harap dan do'a.
Yang tak henti-hentinya berhembus di setiap nafas.
Mengalir dalam darah,
Menyatu dalam nyawa,
Dan berdetak di dalam denyut nadi.
(Laut tenang, hati damai)
Biru menyatu dengan jingga,
Menggambarkan suasana hati yang kian kemarau.
Diam-diam mengembun lalu mengkristal.
Langit nampak indah,
Apalagi apabila kau ada di sisiku,
Menemaniku menghabiskan kopi yang telah ku seduh,
Bagaikan dunia milik berdua.
(Pintu kemana saja)
Pintu non-fiksi secara nyata,
Tak pernah benar-benar nyata.
Lagi lagi pikiranku beradu dengan angan-anganku,
Tentang mengarungi dunia bersamamu,
Mengelilingi dunia,
Hingga letih namun tak tertatih.
Menikmati keindahan alam bersama orang tersayang.
Menghabiskan waktu untuk membahagiakan sepasang insan.
Yang kian dimabuk asmara.
(Mendung tak berkabung)
Ingatan kala itu,
Membawa ku kembali menembus dimensi rindu.
Kenangan yang baru berjalan sebentar, terasa menggebu-gebu,
Seperti orang yang sedang dimabuk rindu saja.
(Kerikil kehidupan)
Kesenangan hanyalah sementara,
Kesedihan pun tidak berlangsung selamanya.
Untuk apa menangisi hal yang semestinya tak perlu ditangisi?
Toh, kebahagiaan baru sedang diukir lalu tinggal kau rakit.
Kesakitan yang kau alami tak sebanding dengan kebahagiaan yang kan datang nanti.
Namun kau harus ingat,
Jangan terlena apabila mendapat kenikmatan.
Pun jangan berlarut-larut dalam kesedihan apabila kesedihan itu datang lagi.
Karena semuanya hanyalah titipan,
Tak ada yang abadi.
Jangan menjadi penganut yang merasa paling memiliki.
Sungguh, kau tak memiliki kuasa akan hal itu.
(Sesaling)
Cobalah untuk menguatkan agar kuat.
Cobalah untuk mengikhlaskan agar hati terasa damai.
Cobalah berdamai dengan diri sendiri,
Berhentilah mengutuk kebodohan diri sendiri,
Sungguh, kau tak sepenuhnya salah.
Yang kau butuhkan hanyalah penerimaan.
Tentang kenangan yang telah terjadi dan masa yang telah lewat.
Jangan lupa menghargai untuk dihargai,
Dan membahagiakan orang lain untuk dapat bahagia.
(Arti makna)
Berhentilah selalu melihat ke atas,
Tengoklah ke bawah.
Masih banyak orang yang tidak seberuntung kita.
Jangan mudah iri, dengki, apalagi membenci.
Hidup sudah sulit, jangan dipersulit lagi.
Setidaknya kau lebih tenang apabila mudah memaafkan orang lain.
Jadikan hidup lebih bermakna,
Dengan meminta maaf walau tak merasa salah,
Dan memaafkan kesalahan orang lain mengingat kita pun pasti punya salah.
Hidup hanya sebentar dan takkan ada kesempatan kedua.
Kita hanya mampir dan singgah,
Tidak menetap selamanya di sini.
Semua orang ingin hidup dalam hiruk pikuk kedamaian.
Siapapun merindukan ketenangan,
Semesta pun begitu.
(Keterbatasan manusia)
Terkadang Allah melakukan kehendak-Nya melalui cara yang tidak terpikirkan oleh manusia.
Jangan membatasi kehendak-Nya dengan pikiran manusia yang terbatas.
Kemampuan Allah tidak terbatas,
Sedangkan kemampuan kita sebagai manusia biasa sangat amat terbatas.
(Sentuh teduh)
Sentuh, jangan rasuk.
Sentuh hatinya namun jangan rasuki jiwanya.
Hati kan terenyuh pun jiwa kan teduh.
(Harga waktu, harga mati)
Bukan soal sibuk atau tak sibuk,
Semua orang punya kesibukan masing-masing.
Ini soal sempat atau tidak sempat.
Belajarlah menghargai waktu.
Sebab takkan bisa terulang kembali.
Jangan sampai penyesalan berkumpul di lubang sanubari.
Dan bersimpuh di dalamnya.
Namira Salsha Delviani.
Di pertengahan Juli, 2018.

























0 komentar:
Posting Komentar