Sabtu, 11 Agustus 2018

Seberkas Cahaya

Langkahan kakiku,
Mengajakku menapaki padang tandus.
Tak ada tanah hunus.
Kering,
Meronta,
Suara teriakan terlontarkan dari sudut pertigaan.
Goresan langit jelmaan pantulan cahaya.
Menderma hati yang berhasil dikelabuhi,
Hawa nafsu pribadi.
Pikiran tak sejalan dengan permintaan hati,
Bukan hanya cahaya saja yang membekas,
Janjimu,
Yang manisnya mengalahkan satu ton gulali,
Ribuan martabak bangka rasa cokelat.
Yang lebih parah dari itu,
Bekasnya itu mencabik-cabik habis degup jantungku,
Menyumbat jalur napasku,
Merasuk ke dalam sukmaku,
Mengacaukan aliran denyut nadiku,
Tapi kau salah,
Aku bukan korban yang tepat untuk kau habisi.
Karena aku sudah terlanjur kebal dengan segala janji,
Yang tak pernah kau tepati.


Memasuki pertengahan Agustus,
ㅡ Namira Salsha D.


Seingatku

Gelagatnya sembilan puluh derajat menyekapku
Memeluk ragaku.
Mengikat jiwaku.
Menelusuri tiap inci tubuhku.
Memacu adrenalinku.
Apa-apaan ini,
Aku kembali bermain dengan mimpiku.
Asyik terbawa alunan syahdu.
Menggerogoti pikiran jernihku.
Ingatanku kala itu.



Belasan Agustus,
ㅡ Namira Salsha D.

Muram Durja

Pandanganku kabur,
Memburam lantas tak sadarkan diri.
Fajar bergulir menjadi senja,
Petang itu,
Kalbu berbisik mesra,
Saling menyahut,
Beratapkan hanyutan asa.
Di sini,
Di tempat ini,
Bayangan itu nampak lagi.
Aku berlagak acuh tak acuh,
Senada dengan gejolak hati,
Seperti terbakar api bercampur gemuruh.


Sebelas Agustus, 2018.
ㅡ Namira Salsha D. 

Rabu, 11 Juli 2018

Hari-hari penuh Rindu

(Rindu, sendu, haru)

Jauh darimu mengokohkan benteng pertahananku,
Menciptakan ruang sepi melumat rindu paling sendu,
Menunggumu pulang sembari melihat garis wajahmu dalam sudut dua dimensi membuat rindu ini tak mau pergi,
Sampai pertemuan itu tiba; kau dan aku menjadi sepasang insan yang gagu antara pelepasan rindu dan haru.


(Kembali)

Pertemuan itu kembali terjadi,
Membunuh rindu paling dalam
Tempat kenangan bersemayam.
Kau kembali,
Aku hanya tertegun dapat melihatmu lagi sedekat ini.
Kita terdiam dan larut dalam bayang-bayang perpisahan yang tak mau pergi
Kau dan aku gagu dibuatnya.


(Tak mau pergi)

Sendiri berteman sepi
Ku abadikan senyummu
Ku bawa kemana pun ku pergi
Bayang wajahmu terus menghantui
Dalam wujud tak nyata
Dan benar-benar tak nyata
Perpisahan itu kembali terjadi
Waktu ku kian sempit menunggumu kembali.
Sebatas bertemu-pergi-kembali-lalu pergi lagi.


(Sebatas)

Dinding penghalang membuatku tak berdaya menahan rindu yang kian bergejolak,
Inginku menghilangkan batas diantara kita,
Hingga tak perlu lagi ku menunggumu,
Kemanapun kau pergi,
Aku bisa ikut.
Tak lagi bersama bayangmu,
Namun bersama tubuh hangatmu.
Menyelimuti rasa rindu yang terus tertuai.
Menggerus ruang waktu,
Dimana kau dan aku terpisah oleh jarak tak tertepis kian memiris. 

Namira Salsha Delviani.
Pertengahan Juli, 2018.

Hanya redup, tidak mati

Memang benar usahaku pernah gagal,
Aku pun sering tersandung bahkan terjatuh,
Namun aku bangkit berkali-kali.

Cahayaku memang sempat redup,
Namun semangatku tetap hidup.
Membara sampai ke tulang rusukku.
Menyatu padu dalam jantungku.

Siapa yang mengharap kecewa?
Tak satupun ada.
Segala pengharapan yang kau tumpahkan pada orang lain,
Kan berujung kecewa.

Dari sini ku belajar percaya pada diriku sendiri.
Tak bisa mengharap apapun dari orang lain,
Ketika kenyataan tak berjalan sesuai harapan,
Masih banyak harap yang terukir indah jauh di sana.
Gapailah. Dapatilah ia sampai kau temukan cahayamu yang sempat redup,
Lalu kau menggantinya dengan cahaya mentari
Yang bersinar sepanjang hari
Dan berganti dengan sinar rembulan
Yang menyinari persinggahan di bumi.

Namira Salsha Delviani.
Pertengahan Juli, 2018.  

Terjatuh lalu bangkit

Kau bisa membuatku jatuh,
Namun kau tak bisa menghalangiku tuk bangkit.
Kau bisa menyepelekanku,
Namun kau tak bisa menutup mata dari kesuksesanku kelak.
Kau bisa berbicara semaumu,
Namun kenyataan tidak mengikuti apa maumu.
Kau bisa berbuat sebebasmu,
Namun kau tak bisa mengatur orang lain apalagi mengekangnya.

Kau boleh menertawakanku,
Namun jangan gagap melihat kebolehanku dalam berkarya.
Kau boleh menyakitiku,
Tetapi hati siapa yang bisa tersakiti apabila sudah bangkit berkali-kali?
Kau boleh menjadi udang dibalik batu,
Bersembunyi dibalik kesalahan orang lain.
Kau bahkan tak sadar kau pun punya kesalahan,
Sehingga secara tidak sengaja kesalahanmu terlihat jelas di mata orang lain.
Dan kau masih tak sadar juga. 

Sesal,
Namira Salsha Delviani.
Pertengahan Juli, 2018 

Sepatah Dua Patah Kata

(Insan kecil)

Dilihat dari atas, menghilanglah aku dari peradaban.
Dilihat dari bawah, aku bukanlah siapa-siapa selain insan kecil.
Yang tak memiliki kuasa.
Namun memiliki harap dan do'a.
Yang tak henti-hentinya berhembus di setiap nafas.
Mengalir dalam darah,
Menyatu dalam nyawa,
Dan berdetak di dalam denyut nadi.


(Laut tenang, hati damai)

Biru menyatu dengan jingga,
Menggambarkan suasana hati yang kian kemarau.
Diam-diam mengembun lalu mengkristal.
Langit nampak indah,
Apalagi apabila kau ada di sisiku,
Menemaniku menghabiskan kopi yang telah ku seduh,
Bagaikan dunia milik berdua.


(Pintu kemana saja)

Pintu non-fiksi secara nyata,
Tak pernah benar-benar nyata.
Lagi lagi pikiranku beradu dengan angan-anganku,
Tentang mengarungi dunia bersamamu,
Mengelilingi dunia,
Hingga letih namun tak tertatih.
Menikmati keindahan alam bersama orang tersayang.
Menghabiskan waktu untuk membahagiakan sepasang insan.
Yang kian dimabuk asmara.

(Mendung tak berkabung)

Ingatan kala itu,
Membawa ku kembali menembus dimensi rindu.
Kenangan yang baru berjalan sebentar, terasa menggebu-gebu,
Seperti orang yang sedang dimabuk rindu saja.

(Kerikil kehidupan)

Kesenangan hanyalah sementara,
Kesedihan pun tidak berlangsung selamanya.
Untuk apa menangisi hal yang semestinya tak perlu ditangisi?
Toh, kebahagiaan baru sedang diukir lalu tinggal kau rakit.
Kesakitan yang kau alami tak sebanding dengan kebahagiaan yang kan datang nanti.
Namun kau harus ingat,
Jangan terlena apabila mendapat kenikmatan.
Pun jangan berlarut-larut dalam kesedihan apabila kesedihan itu datang lagi.
Karena semuanya hanyalah titipan,
Tak ada yang abadi.
Jangan menjadi penganut yang merasa paling memiliki.
Sungguh, kau tak memiliki kuasa akan hal itu.

(Sesaling)

Cobalah untuk menguatkan agar kuat.
Cobalah untuk mengikhlaskan agar hati terasa damai.
Cobalah berdamai dengan diri sendiri,
Berhentilah mengutuk kebodohan diri sendiri,
Sungguh, kau tak sepenuhnya salah.
Yang kau butuhkan hanyalah penerimaan.
Tentang kenangan yang telah terjadi dan masa yang telah lewat.
Jangan lupa menghargai untuk dihargai,
Dan membahagiakan orang lain untuk dapat bahagia.

(Arti makna)

Berhentilah selalu melihat ke atas,
Tengoklah ke bawah.
Masih banyak orang yang tidak seberuntung kita.

Jangan mudah iri, dengki, apalagi membenci.
Hidup sudah sulit, jangan dipersulit lagi.
Setidaknya kau lebih tenang apabila mudah memaafkan orang lain.

Jadikan hidup lebih bermakna,
Dengan meminta maaf walau tak merasa salah,
Dan memaafkan kesalahan orang lain mengingat kita pun pasti punya salah.
Hidup hanya sebentar dan takkan ada kesempatan kedua.
Kita hanya mampir dan singgah,
Tidak menetap selamanya di sini.

Semua orang ingin hidup dalam hiruk pikuk kedamaian.
Siapapun merindukan ketenangan,
Semesta pun begitu.


(Keterbatasan manusia)

Terkadang Allah melakukan kehendak-Nya melalui cara yang tidak terpikirkan oleh manusia.
Jangan membatasi kehendak-Nya dengan pikiran manusia yang terbatas.
Kemampuan Allah tidak terbatas,
Sedangkan kemampuan kita sebagai manusia biasa sangat amat terbatas.


(Sentuh teduh)

Sentuh, jangan rasuk.
Sentuh hatinya namun jangan rasuki jiwanya.
Hati kan terenyuh pun jiwa kan teduh.


(Harga waktu, harga mati)

Bukan soal sibuk atau tak sibuk,
Semua orang punya kesibukan masing-masing.
Ini soal sempat atau tidak sempat.
Belajarlah menghargai waktu.
Sebab takkan bisa terulang kembali.
Jangan sampai penyesalan berkumpul di lubang sanubari.
Dan bersimpuh di dalamnya.



Namira Salsha Delviani.
Di pertengahan Juli, 2018.

Jumat, 23 Februari 2018

Tak Lagi Sama

Satu persatu helaian kertas berisi memori ini telah usang
Lembaran kertas lama telah ku tutup rapih
Ku robek-robek tiap sudut kertas dan ku simpan pada tempat semestinya
Berjuta kenangan bersamamu telah ku lepaskan bersamaan dengan waktu yang kian senggang
Semilir angin membawanya terbang jauh
Kian rapuh

Kau tahu?
Mengapa aku memutuskan untuk begitu?
Karena kau yang menciptakan ruang kosong dan waktu luang di dalamnya
Hingga orang lain bisa masuk dan menggeser posisimu begitu saja
Aku yang memulai, aku yang mengakhiri

Tak apa kau membenciku,
Rasanya denganmu hanya membuat dadaku semakin sesak
Gelisah tak tentu arah
Tak tahu kemana harus melangkah
Tanpa menepi pada tujuannya

Kau telah berada dalam masa lalu ku
Semua indah pada masanya,
Masa aku denganmu sudah habis
Kian kadaluarsa
Lagi lagi tak bisa menyalahkan siapa-siapa

Kau dengan hidupmu
Aku dengan hidupku
Kini arah jalan kita berbeda
Tak lagi sama
Sama seperti yang kau sampaikan padaku, "Sekarang jalani hidup masing-masing", dan ku lakukan itu sesuai kemauanmu

Tak pernah ku sangka akan begini ujungnya
Namun aku tahu ini yang terbaik
Untukku dan untukmu
Kau akan menemukan yang lebih baik dariku
Aku? Pun begitu.







Believe in yourself!




Aku ingin sedikit berbagi pengalaman---
Kalau kalau kalian pernah merasa kurang percaya diri dengan tampilan fisikmu
Kalau kalau kalian pernah merasa tidak puas dengan tampilan wajahmu
Jangan khawatir!
Aku pun sering merasa begitu.
Tapi bukan berarti hal ini menghentikan langkahmu untuk terus berkembang
Orang-orang tidak akan melihat dirimu hanya dari penampilan atau bahkan wajahmu
Klise sekali buatku.
Ketika kamu memberikan yang terbaik, berbicara dengan sopan santun, dan selalu berusaha melakukan hal yang dapat membuat orang lain senang dan meringankan pekerjaannya, itu semua sudah lebih dari cukup.
Orang akan melihatmu dari bagaimana caramu bertingkah laku.
Jika kamu seorang perempuan sama sepertiku, pasti kamu sering tidak percaya diri di hadapan seseorang yang kamu sukai. Apalagi jikalau banyak perempuan lain yang jauh lebih cantik dan seseorang itu memiliki tampilan wajah yang bisa dibilang lumayan tampan.
Bukan begitu?
Jangan pernah berpikir begitu!
Memang buat sebagian orang tampilan wajah itu penting, namun bagiku tidak!
Cantik atau tampan itu relatif. Sama sekali tidak bisa dijadikan suatu permasalahan dalam menjalin relasi.
Sikap, sifat, dan perilaku yang akan membuat orang lain respect dan menghargaimu.
Berbuat baiklah kepada siapapun sekalipun orang itu pernah berbuat jahat padamu.
Percayalah, walau sekecil apapun kebaikan yang kamu lakukan akan tercatat dan tersimpan di langit.
Dan bukan tidak mungkin, ketika kamu membutuhkan bantuan orang lain, mereka tidak segan akan langsung membantumu mengingat kebaikan-kebaikan kecil yang pernah kamu lakukan sebelumnya.
Ini hanya perihal feedback--
Apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu ambil.
Apa yang kamu beri, itu yang akan kamu dapat.

Menurutku cantik tampilan itu tak begitu perlu,
Cantik hati yang nomor satu.
Karena percuma jika wajah saja yang cantik namun hatinya sering mengutuk.
Percuma saja jika wajah cantik namun tidak dapat menempatkan diri dengan baik.
Percuma jika wajah cantik namun perilaku dan sikap tidak sesuai dengan wajahnya.

Apa yang membuatmu kurang percaya diri itu datang dari rasa ketakutanmu sendiri
Rasa takutmu melebihi rasa percaya dirimu
Apa yang kamu takutkan itu belum tentu dipedulikan oleh orang lain
Mereka ingin berkomunikasi denganmu,
Namun tidak menutup kemungkinan kalau mereka pun ingin disapa dan diawali olehmu.

Apa sih yang membuatmu tidak percaya diri?
Kamu tuh indah
Kamu tuh unik
Kamu tuh berbeda dari yang lain
Kamu punya mata, hidung, telinga, bibir, dan sepasang bagian tubuh lainnya
Janganlah terlalu sering melihat ke atas
Cobalah sekali-kali tengok ke bawah,
Masih banyak yang hidupnya tidak seperti hidupmu
Banyak yang ingin berada di posisimu,
Banyak yang ingin menjadi sepertimu,
Banyak-banyaklah bersyukur
Sebelum nikmat yang diberikan oleh Tuhan direnggut kembali

Semua itu hanyalah titipan,
Jagalah sebaik-baiknya
Jangan terus-menerus mengeluh
Jadilah dirimu sendiri,
Karena jika kamu menjadi diri sendiri, maka orang lain akan menerimamu sebagaimana adanya kamu
Dan jika kamu malah mencoba-coba mengikuti orang lain dan tidak menjadi dirimu sendiri
Orang lain akan menerimamu sebagai orang lain, bukan dirimu sendiri
Kamu cantik sebagaimana adanya kamu
Percaya deh pada dirimu sendiri
Kamu punya bakat dan kemampuan yang bisa buat orang lain takjub!
Teruslah kembangkan minat positifmu
Jangan biarkan terpendam dan akhirnya tidak terpakai jika tidak ada tindakan nyata darimu

Selalu bangga jadi diri sendiri!
Karena kamu adalah kamu!
Orang lain adalah orang lain.
Ingat, hidupmu yang berhak mengayuh pedalnya adalah kamu, walau kendali penuh ada di Tangan Tuhan.
Tugasmu hanya mengusahakan yang terbaik!

Semuanya sudah diatur oleh Tuhan, tinggal bagaimana cara kita menjalaninya, menjaganya, dan mensyukurinya.. :)

Home




Tak ada tempat senyaman dan seaman rumah
Tempat persinggahan yang selalu berhasil membuat hati tenang dan damai
Dulu, setiap sepulang sekolah saat masa sma
Pikiran pusing terbebani tugas hilang sudah
Saat kembali ke rumah
Senyuman itu selalu membuat gundahku seketika lenyap seperti terbakar oleh api panas

Someone please, take me home.
Aku selalu ingin berada di rumah
Diselingi dengan canda tawa keluarga yang sangat amat ku sayangi
Dan ku rindukan saat jauh dari mereka.
Ya, mereka itulah ayah, ibu, dan adikku.
Mereka alasan terbesarku untuk terus semangat menjalani hari-hari
Penuh pengalaman dan tantangan baru

Buatku,
Secarik senyuman dari mereka sungguh berarti besar
Secercah harapan untuk membuat mereka senang pun terus terngiang-ngiang di benakku
Aku selalu meminta pada Tuhan agar sempat membahagiakan mereka
Selalu ku selipkan di setiap doa permintaan untuk dapat diberi kesempatan membuat mereka bangga
Karena telah dititipkan amanah gadis kecil yang kini sudah beranjak dewasa
Yang mungkin saja sebentar lagi akan berpindah ke pangkuan seorang laki-laki yang menemaninya kelak di masa tua

Saat ini aku hanya singgah di rumah orang tua
Rumah yang mereka bangun susah payah bersama-sama hingga berdiri kokoh hingga kini
Terpikir olehku bahwa nanti aku pun akan punya rumah sendiri
Yang isinya ada aku, teman hidupku, dan anak-anakku yang amat menggemaskan
Terlintas di benakku bahwa aku akan menjadi seorang ibu yang berawal dari gadis yang sok tahu
Yang nantinya menjadi tahu banyak tentang manis-pahit dan getar-getir kehidupan

Pengalaman adalah guru terbaik yang menggoreskan banyak pelajaran berharga
Yang rasanya tak akan pernah terlupa hingga masa tua tiba

Rumah,
akan tetap menjadi rumah
yang selalu ku rindukan
tempatku mengistirahatkan bahu dan lutut setelah lelah beraktivitas
walau tidak selamanya aku berada di rumah dalam dunia ini
setidaknya aku akan berhenti pada suatu penghujung dunia yang bernama rumah tinggal
Selama-lamanya ku menetap di sana
Semoga tempat yang indah dan menyejukkan hati

Inilah tentang rumah impian yang akan ku bangun di masa depan
Dari nol bersamanya yang digariskan dan ditakdirkan untuk menemaniku mengisi masa yang tak bisa disebut lagi muda
Aku, sekitar puluhan tahun lagi akan menjadi tua
Bersama kenangan dan pengalaman yang selalu mengikuti kemana telapak kakiku melangkah

Inilah aku,
Bersama segala kekuranganku
Yang bermimpi akan mempunyai rumah yang berisi sejuta keindahan
Yang dibangun bersama
Melalui perjalanan panjang yang tentunya tak akan mudah


Jalani detak-detik waktu yang terus mengalir
Hadapi rintangan yang menghadang


Nikmati segala prosesnya

Semua berawal indah
Dan akan berakhir indah pula
Aku percaya itu.